AESTEES punya album Peradaban dalam Earthshaker

AESTEES awal mulainya digagas oleh Ainu Ropiq, Bebby Fisher,  Pagan Zulfikar, dan Rizal Arifin, yang kala itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dengan nama ANOTHER SWORD TO SLAIN di tahun 2010. Tak lama berselang tepatnya di tahun 2012, kwartet  death metal  ini melepaskan sebuah mini album/EP bertajuk ‘Galactic Reborn’ melalui 404 Records, yang berisikan lima buah lagu berdurasi 18-menit yang mengadopsi coreak Technical death metal era 2000-an khususnya dari scene Amerika Serikat seperti THE FACELESS, DERCEPIT BIRTH juga band lokal seperti REVENGE dan DEADSQUAD.

Sempat vakum di tahun 2013, grup yang kini diperkuat dengan suntukan gitaris kedua, Krisnanda Yusuf (SCALDED INFAMY, LIVILIUM), akhirnya kembali lagi ikut aktif dalam kancah skena Death metal Indonesia dengan semangat baru dan gaya bermusik yang jauh lebih matang dengan sebuah Promo album di tahun 2016, dan puncaknya ditandai dengan perilisan album penuh pertama mereka, ‘Earthshaker’. Melalui album ini AESTEES masih mempertahankan corak Death metal modern yang dapat di temui di EP terdahulu, materinya memang sudah tidak serapat ‘Galactic Reborn’, alih-alih ringan tangan melepas blastbeat yang itu-itu saja. komposisi-nya lebih beragam, banyak memasukan elemen-elemen death metal tradisional  di beberapa tempat dan bagian-bagian tempo mengah groovy yang cukup gurih, permainan lead gitar dialbum ini juga terdengar lebih bernyawa dan soulful tidak hanya melempar riff-riff ‘tulalit-tulalit’ hambar layaknya epigon band technical death metal pemuja NECROPHAGIST yang banyak bertebaran skena lokal.

Lirik dalam album ‘Earthshaker’ ini banyak membahas sejarah kelam peradaban manusia, mulai dari ‘The Native’ yang menceritakan ekspedisi kerajaan eropa di benua Amerika yang penuh keserakahan, ‘Black Plague’ tentang pandemik Black Death yang hampir melibas habis setengah populasi Eropa dan Asia Minor dari tahun 1347 hingga 1351. Atmosfir dan ambience yang sudah coba digali pada materi terdahulu tetap dipertahankan, lagu-lagu seperti melodius ‘Another Sword to Slain (Wakizashi)’  dan ‘Lex Talionis’ sepertinya banyak terpngaruh aura mengawang dan space-y ala FALLUJAH.  Penggarapan album ini juga banyak dibantu beberapa nama yang sudah tidak asing lagi dalam ranah permusikan lokal, seperti Daniel Mardhany (DEADSQUAD) yang menyumbang vokal di lagu ‘Voluptuous Insanity’ dan trek dark ambient/noise ‘Chrysalis’ dengan alterego Bisinggama. Nama-nama lain seperti Vladvamp (Koil), David Salim (Djin), Joancuk (Aphoteosis) juga ikut berkontribusi di album ini.

Dengan materi yang cukup berbahaya dan konsep lirikal yang cukup menarik dibaca, sayangnya pengalaman mendengarkan album ini sedikit terkendala kualitas mixing dan mastering yang kurang maksimal, mulai dari part drum yang terkadang terdengar kejar-kejaran, hingga hasil sound-nya yang terdengar terlalu kering sebagai salah satu contoh. Namun kalau bisa mengabaikan hal teknis tersebut, saya rasa ‘Earthshaker’ merupakan album yang cukup solid dan layak masuk rak koleksi anda sekalian. Dan bagi pembeli rilisan fisk-nya terdapat juga QR-Code yang berisikan mobile game yang bisa unduh di PlayStore.

admin

🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: