AfternoonSay resmi lepas single baru bertajuk ‘People Hate People

Menyambut album penuh perdana “Katarsis” yang segera rampung dalam waktu dekat, kugiran eksperimental asal Bandung – AfternoonSay resmi melepas single terbaru bertajuk ‘People Hate People’ pada tanggal 22 Maret, 2019. Dalam album penuh perdananya nanti, akan tersemat sembilan nomor serta satu buah trek bonus untuk para pendengar.

Sebagai perkenalan album kedua tersebut, atas kesepakatan bersama kemudian dipilihlah satu single berjudul ‘People Hate People’, dimana pada lagu tersebut  ada beberapa hal yang berbeda dari karya AfternoonSay sebelumnya diantara lain, sumbang suara dengan mengajak serta Hardy ‘Nyanknyank’ (Taring), sentuhan pada bagian lead synthesizer  oleh soloist elektronik pop – Munthe serta penggunaan instrumen musik tradisional Saluang pun juga Tibetan Voice sebagai penyempurna oleh Ilham (Sukat).

Proses penggarapan single ‘People Hate People’ sendiri memakan waktu kurang lebih lima bulan,  mencakup sesi recording, mixing dan mastering. Untuk proses recording, mengambil tempat di Bandung Creative Hub, dengan bantuan Dadi Lapian (Extend Studio) sebagai operator. Sedangkan tahap mixing dan mastering dipercayakan kepada tangan dingin TheBabams (Storn Lab – Maymellian). Terakhir, sebagai pelengkap visual untuk desain sampul single dikerjakan oleh Felix Tarigan.  

Tentang Saluang

Saluang adalah alat musik tradisional dari wilayah Sumatera Barat, tepatnya di daerah Minangkabau. Pada dasarnya ada tiga jenis Saluang, yang pertama Saluang Solok, Padang Panjang, dan Sirompak yang notabene berasal dari desa Taeh.  Saluang Solok dan Padang Panjang biasanya dimainkian untuk seni pertunjukkan dan hiburan masyarakat, sedangkan Saluang Sirompak fungsinya untuk ritual, pemanggilan arwah dan santet. Unsur sihir hitam dan kegelapan dalam alat musik Saluang Sirompak, memantik korelasi antara alat musik Saluang;

Awal mula nya, Jay (gitar) hanya ingin memperkaya nuansa AfternoonSay dengan memasukan alat musik tiup. Dari sekian banyak pilihan yang ada, Ivan (gitar) kemudian memberikan saran agar menggunakan Saluang Sirompak, dikarenakan nuansa dari alat musik tersebut yang dirasa berkorelasi dengan esensi dari single ‘People Hate People’ itu sendiri. Dimana pada single tersebut banyak menceritakan sisi  buruk sifat manusia dan segala hal negatif yang dilakukan. Tindak tanduk, perangai dan gelagat keburukan manusia itu coba dirangkum dalam bentuk musik eksperimental sehingga melahirkan single ‘People Hate People’.   

“Menurut saya, setiap manusia harus memiliki kecerdasan intelektual, intelejensia, dan unsur spiritual yang seimbang. Karena, dewasa ini orang-orang yang menasbihkan dirinya sebagai orang yang berintelektual tinggi kenyataannya saling mengagungkan persepsi masing-masing. Terbuai dan termakan oleh nilai diri. Adapun, individu yang merasa tingkat  spiritual tinggi, baik diemban melalui pendidikan dan pengalaman condong merasa yang paling suci diantara anak manusia yang lain,” tegas Jay.

“Sementara, hal-hal kecil seperti bertutur kata yang menyenangkan hati orang lain, bersikap baik dengan kekhassan Orang Timur cenderung malah jarang terjadi atau dilakukan di tengah masyrakat Indonesia saat ini. Matinya nurani dan kemanusiaan,” ungkap Ivan yang lahir dan besar di Payakumbuh, Sumatera Barat.

Lagu ini dibuat sebagai pengingat untuk orang-orang terdekat manusia di sekitar kami, untuk kami saling memperbaiki diri dan mengamini kembali bagaiman hakikat nya menjadi manusia sejati. Memanusiakan manusia.

Single People Hate People sudah dapat dinikmati melalui media pelantar berbayar diantaranya Spotify, Deezer, JOOX, Itunes/Applemusic, dan Amazon.

admin

🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: