BLACKHAWK, band asal Palembang Tunjukkan Kebencian, Serakah dan Kesedihan dalam “Decomposing Rotting Flesh”

Karya Blackhawk “Decomposing Rotting Flesh” adalah manifestasi dari serangkaian absurditas pada realitas yang dituangkan dalam bentuk untaian frasa, bertujuan menjabarkan apa yang mereka rasa.

Lagu ini pun merepresentasikan amarah mendidih yang terkubur & membusuk. Respon atas gelagat human nature di arena opera drama tanpa akhir, serupa mayat hidup post-apokalips pada “Night of The Living Dead (1968)”, bengis juga satir.

Mentransformasi fondasi dan rekonstruksi mekanisme nalar membawa nafas segar mengubah hulu hingga hilir. Gubahan ramuan kontemporer menjelma instrumen berat dan kompleks (bak senyawa nuklir/mantra sihir),

BLCKHWK mengangkat Zombie sebagai ikonik formulasi lama yang surreal, kotor dan busuk.

Menganalogikannya kedalam bilangan manifestasi manusia sebagai subjek produk. Kebencian, serakah, pesismisme, doktrin, egoisme, hedonisme, perjuangan hingga tangis kesedihan dan tanpa renjana menjadi bahan bakar pertunjukan sang mayat mengontrol dunia laksana bencana.

Bagi BLCKHWK masalah manusia adalah untuk menjadi manusia itu sendiri. Karena apa yang disampaikan secara lirikal, audio dan visual mengenai kebusukan manusia pernah kita alami.

Perumpamaan mayat/zombie disini adalah mereka sendiri, BLCKHWK mencoba membicarakan dirinya sendiri.

Atau mungkin bisa juga kalian? Walaupun kita semua akan membusuk setidaknya ketika mati berguna bagi makhluk hidup lain.

admin

🙏