Melvhin Samuel Meluncurkan Single Perkenalan, Berjudul “Rikuh”

Kota Bandung kembali memunculkan talenta baru di industri musik Indonesia. Seorang penyanyi pria bernama Melvhin Samuel resmi memperkenalkan debut single berjudul “Rikuh”. Dengan bekal pita suara unik, Melvhin Samuel menawarkan jenis musik popular yang dikembangkan ke ranah yang lebih jazzy/soul. “Rikuh” tersedia di berbagai layanan musik digital terhitung Senin, 18 Maret 2019.

Lagu “Rikuh” sendiri diambil dari puisi seorang perempuan bernama Kinasih Saraswati, puisi ini bercerita tentang pilunya kekalutan manusia. Kalut di sini karena apa-apa yang menjadi pembeda selalu berada di atas kebersamaan, dan sebaliknya, arti kata bersama selalu saja berselimut di sela-sela rasa yang ada, walau pun berbeda.

“Manusia selalu diberikan wadah untuk berfikir di atas rasa, padahal itu adalah dua hal yang sukar dipadupadankan. Di momen inilah penulis merasa sedang tidak beruntung. Satu-satunya cara merasa beruntung itu berpihak adalah ketika logika selaras dengan rasa. Istilahnya, direstui semesta. Layaknya nasib atau kemauan dan kebisaan dari seorang manusia,” ujar Melvhin Samuel.

Lebih jauh, dikatakannya, lagu ini menggambarkan garis cerita jikalau di kala jatuh bangun dan ketika manusia tengah berada di momen-momen atau titik tertinggi dan terendah yang sedang diraih, dia (subjek) tidak ada. Bukan karena tidak mau, tetapi tidak bisa. Tidak bisa berkomunikasi secara wajar, selayaknya tuntutan kelam yang menghadir ragu.

Rikuh tertuang ke dalam narasi yang bertemakan berandai-andai. Andai dia ada, tidak akan semurung ini. Andai dia ada, momen ini lengkap. Andai dia ada, pencapaian penulis di kala itu tidak hambar. Andai dia ada, rasa berjuang untuk yang selanjutnya mampu lebih kuat dan terarah. Tapi sayangnya, semua itu hanya ilmu berandai-andai, dan tetap didapati momen sendiri menantang pencapaian. Kalut maksimal, tapi nelangsa,” ujar Melvhin Samuel.

Secara musikal, bunyi yang ditawarkan merupakan upaya menerjemahkan dari makna lagu yang dimaksud. Tegasnya rhythm dan melodi setiap instrumen merupakan gambaran dari perasaan kalut tersebut yang dicampurkan dengan keinginan atau tindu yang sedikit tertahan, tetapi jika sejenak menutup mata hal itu terasa sangat indah dan terasa hangat. Alunan setiap instrumen pun di oleh se seksi mungkin di setiap notasinya.

Untuk keterlibatan penggarapan lagu ini, Melvhin Samuel turut menunjuk dua orang produser sekaligus, solois bergitar Nissan Fortz dan gitaris dari unit rock-ekspermimental SUPERFINE, Tiar Renas (ke duanya dari Bandung). Adapun musisi yang terlibat dalam teknisnya meliputi Sandi Lesmana pada bas, Marissa Sutanto (drum), Iday Adhya (keyboard), Oki dirgualam (Trumpet) dan Andreina Silah (vokal latar). Sedang Nissan Fortz sendiri ikut ambil bagian pada departemen gitar. Sementara untuk proses akhir audio atau mixing dan mastering dipercayakan kedapa Puja purnama di Escape Studios, Bandung.

Di luar itu, Melvhin Samuel juga turut mengemas lagu ini dengan tawaran sampul yang ia elaborasikan bersama ilustrator muda, Luthfil Hadi, ditangan ilsutrator yang memiliki nama artist Sakadang Keos ini sampul single di gambarkan menjadi sebuah lukisan kalut dari potret diri sosok yang digambarkan sebagai subjek lagu. Melanjutkan aktivitasnya terkait rilisan ini, Melvhin Samuel berencana untuk melepas video lirik, kemudian video klip, promo di berbagai radio dan sebuah showcase di Bandung hingga pada nantinya bermuara pada album penuh.

 

admin

🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: