Pilih mana? Fans atau Groupies ?

Banyak anak muda mimpi jadi pesohor, dengan berbagai keinginan, mimpi dan macam-macam alasan. Untuk band yang personelnya laki-laki semua, biasanya akan tegas menjawab: buat cari cewek! Nah, band cewek, apakah juga mencari cowok penggemarnya?

TAK BANYAK media yang mengupas groupies secara kompeherensif. Kami ingin membuka mata dan pikiran Anda, mungkin sedikit menjernihkan ‘otak kotor’ ketika menyebut groupies dalam kosa kata kita sehari-hari. Di negaranya Obama dan The Beatles, fenomena groupies sudah bermunculan sejak era 60an. Banyak dari mereka yang malah akhirnya menjadi selebritas, meski jauh lebih banyak yang sekadar jadi “teman tidur” anak-anak band.

Kutipan di awal tulisan, diucapkan oleh Connie Hamzy, satu dari sekian banyak jumlah groupies yang memang gemar mendekati sosok pesohor dan menjalin hubungan dekat dengan mereka. Reputasi Connie boleh dibilang cukup bersinar. Cewek kelahiran Arkansas, Amerika Serikat ini mengaku pernah dekat dengan para personil Van Halen, The Allman Brothers, Gene Simmons [KISS} hingga Willie Nelson. Menjadi “piala bergilir” dari idolanya? Kenyatannya memang demikian.

Groupies sendiri secara umum bisa diartikan sebagai orang-orang yang secara seksual maupun emosional mencoba menjalin hubungan dengan figur-figur terkenal lain. Secara literal, groupies diambil dari kata group yang merujuk kepada grup musik. Karena kebanyakan groupies memang memfokuskan incarannya kepada bintang-bintang musik. Meski, dalam arti luas, sebenarnya juga berlaku untuk pesohor di luar musik.

Groupies pernah menjadi gelombang besar sepanjang dekade 60an hingga 80an. Meski tidak memiliki hubungan secara signifikan dengan aspek-aspek musikal yang dilakukan sang bintang, namun groupies kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah musik. Menjadi sisi lain dari dunia selebritas yang hingga kini juga masih menarik untuk dibahas.

Aspek kedekatan dengan sang bintang yang cenderung seksual itulah yang membedakan groupies dengan fans atau penggemar. Jika fans hanya sebatas menyukai atau menggemari band dan lagu-lagunya serta cukup dengan hanya datang ke konser, maka groupies memiliki sifat obsesif yang selalu berusaha mencari cara untuk bisa mendekat kepada sang bintang hingga ke tingkat hubungan yang sedalam-dalamnya dan sedekat-dekatnya. Tak jarang, beberapa di antaranya bahkan bisa menikah dengan sang idola

Satu lagi yang membedakan fans dengan groupies adalah wilayah kefanatikan. Seorang fans biasanya fanatik dengan band atau penyanyi idolanya sehingga mereka hafal seluruh lagunya, selain membeli CD originalnya, DVD dan selalu datang ke setiap konsernya dan loyalitasnya terhadap sang idola tidak cepat luntur bahkan hingga bertahun-tahun. Fakta bahwa sebagian penonton yang datang ke konser Metallica atau Guns N’ Roses di Jakarta adalah mereka yang berusia antara 30-40 tahun merupakan bukti bahwa seorang fans punya loyalitas yang mengikat terhadap band idolanya. Mereka yang kini berusia di atas 30 tahun tentu sudah mengenal dan menyukai dua band besar itu sejak mereka masih remaja pada dekade 80-90an. Hingga kini pun kesetiaan mereka terhadap idolanya tetap tidak luntur.

Groupies memiliki pemahaman yang berbeda tentang sang bintang. Karena orientasi mereka lebih bersifat seksual dan emosional dalam bentuk romantisme, maka kebanyakan groupies justru hampir tak peduli dengan karya-karya ataupun konser sang bintang. Bisa jadi para groupies malah tak terlalu mengenal lagu-lagu sang bintang, kecuali satu atau dua hitsnya yang terkenal saja. Groupies juga cenderung kurang loyal dibandingkan dengan fans. Mereka bisa menjalin hubungan dengan banyak pesohor.

Mencari cara agar bisa sedekat mungkin dengan sang bintang adalah juga yang membedakan groupies dengan fans. Jika fans akan menghabiskan waktu sepanjang konser dengan menonton dan menikmati lagu-lagunya hingga selesai, maka groupies akan mencari cara agar bisa mendapat akses untuk dekat dengan band idola atau sang bintang. Punya kecenderungan untuk selalu berada di backstage, membuntuti atau menunggu di hotel tempat inap sang bintang. Sebagian malah nekat mengendap-endap berusaha memasuki rumah pribadi sang bintang.

Puncak Sex, Drugs and Rock n Roll.

Pada era 70-80an, slogan “sex drugs and rock n roll” mencapai puncak popularitasnya, dalam artian menjadi slogan yang memiliki banyak penganut dan diamini oleh sebagian besar band-band kondang pada masa itu. Slogan yang konon dulunya berbunyi “wine, women and song” ini dianggap sebagai lambang hedonitas yang menjadi pola gaya hidup para musisi terkenal. Hal ini menjadi semacam pintu masuk bagi para groupies untuk mendekati idolanya. Groupies pun menjadi demikian exist karena mereka mendapat sambutan juga dari para musisi yang mereka incar.

Para musisi itu memang tak perlu jauh-jauh mencari sosok perempuan yang bisa mereka ajak berkencan. Para groupies ini selalu ada di dekat mereka, di dalam bus tur, di backstage, di hotel. Terkadang bahkan ikut dalam tur dan bertingkah seperti seorang pacar dari anggota band, sampai-sampai muncul istilah “road wives” untuk keberadaan mereka. Salah satu contoh terkenal dari “road wives” adalah Nancy Spungen, yang kondang sebagai teman dekat Sid Vicious, bassist The Sex Pistols.

Gaya hidup hedonis para pop stars atau rock stars serta ambisi pribadi dari para groupies untuk bisa dekat dengan idolanya, membuat hubungan kedua pihak ini menjadi sebuah hubungan yang mutualisme. Rita Rae Roxx, seorang groupie -tapi konon tak pernah menyebut dirinya groupie- era 80an dalam bukunya Once Upon a Rock Star : Backstage Passes in the Heavy Metal Eighties. Big Hair, Bad Boys [and One Bad Girl], menuliskan bahwa tidak terlalu sulit untuk bisa akrab dengan para pemusik itu.

“Pada saat usiaku 18 tahun, aku sangat senang karena akhirnya Quiet Riot datang ke kotaku. Aku sangat ingin berkencan dengan Rudy Sarzo [bassist Quiet Riot saat itu]. Saat personil band yang lain tahun bahwa aku juga punya kokain, aku jadi sangat popular,” tutur perempuan asal Omaha, AS yang juga pernah berkencan dengan Paul Stanley dari KISS. Lengkap sudah slogan “sex, drugs and rock & roll” dirangkum dalam kalimat yang diucapkan oleh Roxx tersebut.

Meski sudah mulai muncul dan dikenal sejak dekade 60an, keberadaan groupies mendapat sorotan cukup besar pada dekade 80an seiring kemunculan MTV tahun 80an. Jaringan ini kerap menayangkan klip-klip band glamor yang memang tengah menapaki puncak popularitasnya pada dekade 80an. Hampir semua band kondang pada masa itu selalu memiliki cerita tentang groupies. Beberapa klip yang dibuat oleh band-band itu juga memajang image dan kesan yang terhubung dengan perempuan yang seksi. Lihat saja klip ‘Cherry Pie’ milik Warrant atau ‘Girls, Girls, Girls’ milik Motley Crue. Dari judulnya saja, dua klip itu sudah sangat berkonotasi dengan perempuan.

Beberapa artwork album juga memajang foto atau gambar perempuan, seolah menegaskan bahwa figur hawa merupakan bagian tak terpisahkan dari keglamoran band-band tersebut. Tengok artwork dua album awal Ratt Out Of The Cellar [1984] dan Invasion Of Your Privacy [1985]. Pada akhir dekade 80an dan awal 90an masih ada Slaughter dan Firehouse. Dua band ini debut albumnya sama-sama memajang sosok perempuan. Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas debut album mereka juga sama-sama laris hingga jutaan keping dan membuat nama mereka sempat berkibar di awal 90an.

Groupies juga tak jarang menjadi subyek yang muncul dalam karya-karya para musisi. Sebutlah Connie Hamzy yang namanya disebut-sebut dalam lagu ‘We’re American Band’ milik Grand Funk Railroad. Lagu ‘Go Down’ milik AC/DC konon merupakan cerita tentang Ruby Lips, seorang groupie yang dikenal oleh band asal Australia itu. Lagu ‘Livin Lovin’ Maid’ dari Led Zeppelin juga sebuah lagu tentang groupies. Memasuki era 90an, Red Hot Chili Peppers membuat lagu ‘One Hot Minute’ yang oleh banyak orang dianggap sebagai lagu yang bercerita tentang hubungan para personil RHCP dengan para groupies.

Tidak Selalu Cewek.

Ada satu hal yang pasti selalu muncul dalam pemikiran orang saat mendengar istilah groupies, yakni sosok perempuan. Groupies selalu lekat kepada kaum hawa. Pemikiran seperti ini tentu muncul karena memang cerita-cerita tentang groupies selalu mengedepankan perempuan sebagai pelaku utamanya. Tapi ternyata tidak selalu demikian kenyataannya.

Meski jumlahnya tidak banyak dan kurang ditopang oleh publikasi, ternyata ada juga groupies berjenis kelamin laki-laki. Paling tidak hal itu diungkapkan oleh Pamela Des Barres, seorang groupies terkenal di era 60an. Menurut Pamela, dia mengenal seorang cowok bernama Pleather yang pernah tidur dengan banyak artis cewek mulai dari Courtney Love, personel L7, hingga personel The Bangles. Cerita tentang Pleather ini dimuat dalam salah satu buku Pamela yaitu Let’s Spend the Night Together: Backstage Secrets of Rock Muses and Supergroupies.

Keberadaan groupies laki-laki menunjukkan bahwa istilah groupies memang tidak merujuk pada salah satu jenis kelamin, meski konon pada awalnya dia diciptakan karena keberadaan groupies perempuan. Namun pada perkembangannya dunia groupies pun dimasuki oleh laki-laki yang terobsesi ingin berkencan dengan bintang cewek favoritnya.

Antara Budaya dan Cinta.

Stewart L Tubbs dalam bukunya: Human Communication : Konteks – Konteks Komunikasi pernah mendefinisikan budaya sebagai suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Lewat pemahaman dekan College Of Business Eastern Michigan University itu, bisa dicungkil satu kesimpulan bahwa budaya yang berlaku dalam sebuah kelompok sangat mempengaruhi individu-individu di dalam kelompok tersebut. Groupies dalam hal ini tidak mendapat pengecualian.

Setidaknya ada dua hal yang bisa diangkat menjadi faktor kemunculan fenomena groupies. Pertama adalah faktor budaya. Kutipan Connie Hamzy di awal tulisan ini menunjukkan bahwa budaya –dalam hal ini dikerucutkan menjadi lifestyle atau yang dalam kutipan Connie disebut keglamoran- memang menjadi salah satu faktor munculnya groupies. Mereka menikmati proses yang berlangsung di dalam dunianya tersebut karena merasa itu merupakan bagian dari kehidupan mereka. Sebuah bagian kehidupan yang diawali dengan keinginan untuk mengikuti jejak sejarah yang telah ditanamkan oleh generasi sebelumnya.

Istilah groupies memang baru mulai ngetop pada dekade 1960an, namun fenomena seperti ini sebenarnya bukan baru muncul pada dekade tersebut. Zani, sebuah online magazine for pop culture asal Inggris menuliskan bahwa keberadaan groupies baru terangkat ke permukaan pada dekade 60an karena pada dekade itulah gaya hidup para pesohor mulai dikupas oleh media. Jadi bisa dibilang bahwa sebelum era 60an groupies sebenarnya sudah ada namun aktifitasnya tak banyak diketahui oleh publik.

Kepingan-kepingan sensasi yang didapatkan saat seorang menjadi groupies, menjadi salah satu faktor pemicu lahirnya sebuah budaya. Sebagian dari mereka ada yang mencari status. Merasa puas dan bangga bisa dekat dengan sang bintang, syukur-syukur bisa ikut terkenal juga. Beberapa groupies Amerika memiliki pemikiran seperti itu, dan ini dibenarkan oleh Pamela Des Barres. “Ada beberapa kelompok yang menjadi groupies untuk alasan popularitas.” ujarnya dalam sebuah interview yang dimuat di classicbands.com.

Faktor budaya juga bisa muncul dari sisi sang idola. Gaya hidup yang serba sensasional menjadikan para bintang ini menerima keberadaan groupies. Lagi-lagi, karena fenomena ini memang sudah menjadi budaya dalam kehidupan keartisan mereka. Sekali lagi, slogan ‘sex, drugs and rock & roll’ seolah menjadi trilogi yang harus ada dalam kehidupan seorang bintang.

Faktor kedua yang menjadi pemicu kemunculan groupie adalah urusan romantisme. Kecintaan atau kegilaan emosional –dalam hal ini adalah jatuh cinta- menjadi dorongan kuat untuk bisa akrab dengan sang bintang. Hubungan keduanya tak jarang kemudian menjadi demikian mesra jika ternyata seorang groupies sanggup menaklukkan hati pujaannya. Frekuensi pertemuan yang intens, serta usaha para groupies melayani keperluan-keperluan idolanya, bukan tak mungkin bisa membuat sang bintang akhirnya menanggapi serius hubungan mereka. Beberapa di antaranya bahkan sukses meningkatkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

Dailymail menyebutkan bahwa Linda Eastman yang menjadi istri pertama Paul McCartney sebelumnya adalah seorang groupie, meski Linda sendiri menolak disebut groupies dan lebih nyaman disebut sebagai seorang fotografer. Aktris Pamela Anderson yang sempat sukses merebut hati rocker mbeling Tommy Lee juga sebelumnya adalah seorang groupies. Pamela bahkan juga prnah menikah dengan Kid Rock. Itu hanya sebagian contoh bahwa urusan asmara juga bisa menjadi motivasi seseorang untuk mendekati bintang pujaannya.

Groupies Lokal

Mari kita melirik band-band lokal di Indonesia. Sebenarnya sama saja, hanya karena tidak terlalu permisif, eksposurenya kurang mencuat. Tapi di kalangan jurnalis yang biasa meliput dan ikut tur beberapa band terkenal, urusan groupies ini sudah jadi rahasia umum. Kasak-kusuknya mengatakan, sebelum dan setelah manggung, biasanya penggemar [atau groupies], sudah menunggu di lobi tempat di artis menginap.

Salah satu pengalaman yang pernah penulis alami ketika ikut tur salah satu band terkenal, perempuan yang mengincar personel band, biasanya betah berlama-lama menunggu, meski kadang-kadang awalnya dicuekin oleh artisnya. Mereka duduk diam, cuek, sesekali tersenyum, menunggu idolanya. Ketika kemudian idolanya datang, dan mengajaknya masuk ke kamar, hanya senyum semringah yang tampak. Selanjutnya terserah Anda mengartikannya.

Atau dalam sebuah obrolan dengan seorang sekretaris di salah satu perusahaan asing di Sudirman, Jakarta. Sebut saja Libra. Dia rela ditiduri –benar, ditiduri—oleh salah satu vokalis band pop, karena menurutnya si artis seksi, terlepas dari lagu-lagunya yang nyaris semuanya melow dan menyayat. Hikayat groupies memang tidak akan berhenti. Selama ada artis, penggemar, pengejar, karya dan idola, kejadian-kejadian di balik layar itu masih akan berjalan. Mungkin dicibir, tapi toh ada yang membutuhkan dan merelakan.

admin

🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: