TERHIDRASI DAN MELAWAN STAR SYNDROME DI ALBUM BARU MINOR DIALOGUE, “GORGEOUS”

Processed with VSCO with m5 preset

Lebih dari satu tahun setelah rilisnya EP ‘From Which I Can’t Look Away,’ akhirnya pada Sabtu, 2 Maret 2019, ‘Gorgeous,’ proyek terbaru milik singer-songwriter­ asal Tangerang, Bagas Asfriansyah alias Minor Dialogue, rilis di kanal YouTube dan Bandcamp.

‘Gorgeous’ berisikan 10 trek pendek (dan satu trek bonus) dengan durasi total 23 menit, atau yang Bagas sendiri nyatakan di akun Instagram dan Bandcamp-nya bahwa rilisan ini adalah a collection of short love songs.

“Lagu-lagu tersebut saya dedikasikan untuk seseorang yang ‘gorgeous’ dan baru saja berulang tahun ke-23 akhir Februari kemarin, maka dari itu saya sengaja mengonsepkan sedemikian rupa, seperti keseluruhan album yang berdurasi 23:02 menit dan rilis di tanggal 2 bulan 3,” ujar Bagas.

Tanggal 23 Februari silam, sebelum mengumumkan Gorgeous, Bagas merilis double single bertajuk ‘Water’ dan ‘Rotring’ yang diunggah bersama video lirik via kanal YouTube-nya.

“Ingin lebih jujur dan tidak self-centered­ di rilisan ini, karena saya belum merasa demikian di EP yang lalu, dan di pembuktian awalnya ada di kedua lagu tersebut—terutama Water. Banyak pesan-pesan subtle yang ingin saya sampaikan di sini, baik ke seseorang yang saya tuju maupun ke pendengar umum; seperti selalu meminum air mineral untuk tetap terhidrasi di lagu Water, karena hidrasi adalah salah satu kunci yang sering dilupakan untuk menjadi kuat dan tegar, dan masih ada lagi pesan-pesan seperti itu di beberapa trek lain. Poinnya adalah, walaupun pendek, namun tetap tidak meaningless,” jelasnya.

Eksplorasi di kedua lagu tersebut bisa dikatakan berbeda dengan apa yang sudah dikeluarkan Bagas di EP yang lalu yang lebih bernuansa folk; dari instrumentasi, kualitas rekaman, hingga penyampaiannya, suasana kental khas bedroom popterlihat diaplikasikan ke seluruh lagu. Ternyata, di balik itu semua ada maksud dan tujuan tertentu yang ingin disampaikan oleh pemuda yang juga vokalis dari band indie-rock Eitherway. ini.

“Saya menulis, memainkan, dan memproduksi semua yang ada di album ini dalam kurun waktu 2 (dua) minggu di kamar saya sendiri. Selain sebagai bentuk produktivitas, saya tidak gentar untuk mengatakan ‘album’ yang notabene sangat tidak polishedini sebagai sebuah bentuk ‘perlawanan’ saya untuk para so-called musisi/produser independen lokal yang (kebetulan) sudah tenar, (mungkin) terkena star syndrome dan menjadi egois dalam hal membantu para juniornya. Pada saat rekaman, saya benar-benar tidak terlalu mempedulikan suara fals atau apapun itu, yang penting saya mengeluarkan sebuah rilisan, karena saya rasa saya sudah menunggu cukup lama, dan seakan-akan ingin berkata ‘tanpa tanganmu ternyata saya juga bisa.’ Dan saya tidak kecewa dengan hasilnya, bahkan semacam ‘menemukan jati diri’ saya sendiri sebab saya sudah mendeklarasi saya sendiri sebagai ‘musisi lo-fi’ sudah cukup lama dan baru kali ini saya ‘betul-betul’ merasakannya,”

“Pada pertengahan September 2018, saya pernah meminta bantuan salah satu produser lokal yang (sebenarnya) saya percaya (hanya) untuk mixing dan mastering 1 (satu) lagu berdurasi 4 (empat) menit dan beliau mengiyakan untuk menyelesaikannya dalam 2 (dua) minggu. Namun, sudah 6 (enam) bulan hingga Maret ini tidak ada kabar, sedangkan grup musik beliau makin meroket dan baru saja diumumkan untuk bermain di festival musik internasional ibukota. Percayalah, tidak ada sirik-sirikan di sini. Juga, seandainya beliau bilang musik saya tidak digarap karena jelek, saya masih sangat bisa terima, setidaknya saya masih dapat kabar, jadi saya tidak perlu menghabiskan waktu menunggu kepastian dan bisa secepatnya membuat karya lain untuk kado ulang tahun,” tutupnya sambil tertawa.

admin

🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: